Misi Berbahaya ke Markas Belanda: Keberanian Sunyi Mbah Man
Di tengah panasnya medan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, ada satu kisah yang sampai kini masih membekas dalam ingatan para saksi sejarah—kisah tentang Mbah Man, anggota Pasukan Hizbullah, yang pernah menjalankan misi hidup-mati mengantarkan surat ke markas tentara Belanda di Jombang.
Hari itu, sang Komandan Hizbullah menyampaikan keputusan yang tak biasa. Ia menunjuk Mbah Man untuk membawa sepucuk surat penting langsung ke tangan komandan Belanda. Mbah Man sendiri heran mengapa dirinya yang dipilih. “Masuk ke markas Belanda itu seperti menyerahkan nyawa sendiri,” kenangnya. Namun, sebagai prajurit yang taat pada perintah, ia tidak membantah.
Dengan langkah tenang tapi hati penuh waspada, Mbah Man berangkat. Ia hanya membawa surat perintah dan beberapa dokumen rahasia yang ia sembunyikan dengan hati-hati. Tapi sebelum sampai, semua dokumen tambahan itu ia remas dan hancurkan, untuk menjaga kerahasiaan jika terjadi sesuatu.
Sesampainya di markas Belanda, surat diserahkan. Namun ia tidak langsung diperbolehkan kembali. Tiga hari lamanya Mbah Man ditahan di dalam markas, bajunya dilucuti, dan ia hanya memakai celana pendek. Ia tidak tahu apa yang sedang direncanakan. Makanan seadanya, tekanan batin luar biasa. Dalam hati, ia sempat berpikir: “Ini akhir hidupku, tinggal hitungan detik.”
Hari ketiga, saat pagi mulai meninggi, Mbah Man digiring ke lapangan depan markas. Masih dengan tubuh setengah telanjang, ia berdiri di bawah tatapan puluhan tentara Belanda. Dalam hati ia gemetar, tapi tak satu pun getar itu terlihat di wajahnya. Ia memilih untuk berdiri tegak, jika memang ajal menjemput, maka ia akan mati sebagai pejuang.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Bajunya dikembalikan. Ia diminta mengenakannya, lalu Komandan Belanda memberi penghormatan, diikuti oleh seluruh pasukan. Di hadapannya, sebuah surat balasan diberikan. Tanpa sepatah kata pun tentang ancaman atau intimidasi, mereka membiarkan Mbah Man pergi, membawa pesan itu kembali kepada pasukan Hizbullah.
Dengan langkah yang sama saat berangkat—tenang, tanpa banyak suara—Mbah Man kembali ke barisan perjuangan. Tapi kali ini, ia membawa lebih dari sekadar surat. Ia membawa bukti bahwa keberanian, keteguhan, dan kepatuhan dalam tugas bisa membuat bahkan lawan pun menghormati.

Comments
Post a Comment