Pejuang Tanpa Alas Kaki: Kisah Mbah Man dari Pasukan Hizbullah
![]() |
Penulis: Yusuf Em. (Seperti yang diceritakan Mbah MAN pada saat itu.)
Di balik kemerdekaan Indonesia yang kita nikmati hari ini, terdapat ribuan kisah pengorbanan dari pejuang-pejuang yang namanya tak tertulis di buku sejarah nasional. Salah satu dari mereka adalah Abdul Manan, lebih dikenal dengan nama Mbah Man, seorang pejuang rakyat dari Desa Ngaresrejo, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo. Ia adalah bagian dari pasukan Hizbullah, laskar bersenjata yang dibentuk dari kalangan santri dan pemuda Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia pasca-Proklamasi 1945.
Meski Indonesia telah menyatakan diri merdeka pada 17 Agustus 1945, kenyataannya Belanda masih berupaya kembali menguasai Nusantara melalui agresi militer. Dalam situasi genting ini, Mbah Man ikut mengangkat senjata bersama Hizbullah dan turut serta dalam perjuangan bersenjata melawan tentara Belanda.
Strategi Gerilya dan Pengorbanan
Mbah Man dikenal sebagai sosok yang tangguh dan cermat. Dalam kesehariannya sebagai pejuang, ia memilih bergerilya melalui jalur-jalur sunyi, melewati kebun-kebun, semak belukar, dan hutan bambu berduri. Semua itu ia lakukan tanpa alas kaki, demi menghindari patroli dan sergapan tentara Belanda yang sering berjaga di jalan-jalan utama.
Perbekalan Mbah Man sangat terbatas. Ia hidup dari makanan seadanya yang diberikan secara sukarela oleh masyarakat desa yang mendukung perjuangan. Tak jarang, ketika harus melintasi jalur umum yang berbahaya, Mbah Man akan menyamar sebagai pedagang. Ia meminjam pikulan dagangan dari penduduk yang sedang melintas, lalu berjalan melewati pos penjagaan tentara seolah-olah seorang warga biasa.
Medan Tempur yang Luas
Perjalanan perjuangan Mbah Man sangat luas dan melelahkan. Ia kerap berjalan kaki dari Jombang hingga Sidoarjo, menempuh puluhan kilometer tanpa kendaraan dan tanpa keluhan. Di salah satu pertempuran yang terjadi di Pacet, Mojokerto, Mbah Man dan rekan-rekannya sempat mengalami momen menegangkan. Dalam sebuah gang kecil yang menurun, sebuah drum besar dijatuhkan ke tengah jalan untuk mengelabui tentara Belanda. Taktik ini berhasil mengecoh musuh, yang segera memberondong drum tersebut dengan senjata mereka.
Warisan Perjuangan
Mbah Man adalah gambaran nyata tentang bagaimana rakyat biasa bisa menjadi pahlawan luar biasa. Ia bukan tokoh besar dalam sejarah nasional, namun peran dan pengorbanannya tak kalah penting dalam menjaga kedaulatan Indonesia. Bersama pasukan Hizbullah, ia menunjukkan bahwa semangat jihad, keberanian, dan kecintaan pada tanah air bisa menyala terang bahkan di tengah kesunyian.
Kini, kisah Mbah Man menjadi bagian dari sejarah lokal yang patut dikenang dan disebarluaskan. Ia adalah bukti bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari perjuangan panjang dan penuh pengorbanan dari orang-orang yang mungkin tak dikenal dunia, tapi sangat berarti bagi bangsa.

Comments
Post a Comment