Posts

Diberondong di Sungai: Kejadian yang Membuat Mbah Man Dijuluki “Kebal Peluru”

Image
Penulis: Yusuf Em. Seperti yang diceritakan Mbah MAN pada saat itu Dalam perjalanan panjangnya bersama Pasukan Hizbullah, Mbah Man pernah mengalami kejadian yang nyaris merenggut nyawanya—namun justru menjadikannya legenda di antara rekan-rekan seperjuangan. Hari itu, setelah menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki melalui hutan, semak, dan kebun, pasukan Hizbullah berhenti untuk beristirahat. Mbah Man, merasa tubuhnya letih dan lengket oleh keringat, memutuskan untuk berpisah sejenak dari rombongan dan turun ke sungai yang jernih untuk menyegarkan diri. Ia meletakkan bajunya di atas tongkat kayu di tepi sungai , lalu perlahan turun ke air , membiarkan arus mengalir di tubuhnya yang lelah. Saat itulah, tanpa disadari, pasukan Belanda melihatnya dari kejauhan. Mereka langsung memberondong tembakan ke arah tepi sungai , tepat ke arah tempat baju Mbah Man tergantung. Dentuman peluru menggema, dan baju yang tergantung itu berlubang di banyak tempat , tercabik oleh tembakan. Mbah M...

Pejuang Tanpa Alas Kaki: Kisah Mbah Man dari Pasukan Hizbullah

Image
Penulis: Yusuf Em. ( Seperti yang diceritakan Mbah MAN pada saat itu.) Di balik kemerdekaan Indonesia yang kita nikmati hari ini, terdapat ribuan kisah pengorbanan dari pejuang-pejuang yang namanya tak tertulis di buku sejarah nasional. Salah satu dari mereka adalah Abdul Manan, lebih dikenal dengan nama Mbah Man, seorang pejuang rakyat dari Desa Ngaresrejo, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo. Ia adalah bagian dari pasukan Hizbullah, laskar bersenjata yang dibentuk dari kalangan santri dan pemuda Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia pasca-Proklamasi 1945. Meski Indonesia telah menyatakan diri merdeka pada 17 Agustus 1945, kenyataannya Belanda masih berupaya kembali menguasai Nusantara melalui agresi militer. Dalam situasi genting ini, Mbah Man ikut mengangkat senjata bersama Hizbullah dan turut serta dalam perjuangan bersenjata melawan tentara Belanda. Strategi Gerilya dan Pengorbanan Mbah Man dikenal sebagai sosok yang tangguh dan cermat. Dalam kesehariannya sebag...

Misi Berbahaya ke Markas Belanda: Keberanian Sunyi Mbah Man

Image
Penulis: Yusuf Em. Seperti yang diceritakan Mbah MAN pada saat itu Di tengah panasnya medan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, ada satu kisah yang sampai kini masih membekas dalam ingatan para saksi sejarah—kisah tentang Mbah Man , anggota Pasukan Hizbullah , yang pernah menjalankan misi hidup-mati mengantarkan surat ke markas tentara Belanda di Jombang . Hari itu, sang Komandan Hizbullah menyampaikan keputusan yang tak biasa. Ia menunjuk Mbah Man untuk membawa sepucuk surat penting langsung ke tangan komandan Belanda. Mbah Man sendiri heran mengapa dirinya yang dipilih. “ Masuk ke markas Belanda itu seperti menyerahkan nyawa sendiri, ” kenangnya. Namun, sebagai prajurit yang taat pada perintah, ia tidak membantah. Dengan langkah tenang tapi hati penuh waspada, Mbah Man berangkat. Ia hanya membawa surat perintah dan beberapa dokumen rahasia yang ia sembunyikan dengan hati-hati. Tapi sebelum sampai, semua dokumen tambahan itu ia remas dan hancurkan , untuk menjaga kerah...

Menyeberangi Sungai Berantas: Strategi Sunyi Pasukan Hizbullah

Image
Foto ilustrasi Mbah MAN. (kiri) Penulis: Yusuf Em. Seperti yang diceritakan Mbah MAN pada saat itu. Di tengah malam yang gelap dan senyap, hanya suara arus sungai yang terdengar deras di telinga. Saat itu, Mbah Man, seorang pejuang dari Pasukan Hizbullah, berdiri di tepi Sungai Brantas—sungai besar yang menjadi salah satu rintangan alami dalam perjalanan gerilya melawan tentara Belanda. Namun bagi Mbah Man dan rekan-rekannya, menyeberangi sungai bukan sekadar menaklukkan alam, tapi juga menantang maut dalam senyap. Peristiwa ini terjadi di tengah masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, ketika pasukan Hizbullah bergerak secara diam-diam melintasi wilayah Jawa Timur. Penyeberangan dilakukan saat malam hari, demi menghindari pantauan pasukan Belanda yang sering berjaga di siang hari. Dalam gelap, mereka menyusuri sungai tanpa cahaya, tanpa suara, hanya berbekal tekad dan kehati-hatian. Karena jumlah pasukan cukup banyak, penyeberangan dilakukan satu per satu, secara bergiliran. Mas...