Menyeberangi Sungai Berantas: Strategi Sunyi Pasukan Hizbullah
![]() |
| Foto ilustrasi Mbah MAN. (kiri) |
Penulis: Yusuf Em. Seperti yang diceritakan Mbah MAN pada saat itu.
Di tengah malam yang gelap dan senyap, hanya suara arus sungai yang terdengar deras di telinga. Saat itu, Mbah Man, seorang pejuang dari Pasukan Hizbullah, berdiri di tepi Sungai Brantas—sungai besar yang menjadi salah satu rintangan alami dalam perjalanan gerilya melawan tentara Belanda. Namun bagi Mbah Man dan rekan-rekannya, menyeberangi sungai bukan sekadar menaklukkan alam, tapi juga menantang maut dalam senyap.
Peristiwa ini terjadi di tengah masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, ketika pasukan Hizbullah bergerak secara diam-diam melintasi wilayah Jawa Timur. Penyeberangan dilakukan saat malam hari, demi menghindari pantauan pasukan Belanda yang sering berjaga di siang hari. Dalam gelap, mereka menyusuri sungai tanpa cahaya, tanpa suara, hanya berbekal tekad dan kehati-hatian.
Karena jumlah pasukan cukup banyak, penyeberangan dilakukan satu per satu, secara bergiliran. Masing-masing pejuang harus memastikan bahwa langkah mereka tidak menimbulkan suara yang mencurigakan. Tidak ada teriakan, tidak ada isyarat lambaian tangan. Komunikasi diatur dengan kode bunyi sederhana tapi cerdas.
Kode pengenal itu adalah suara "kuk". Jika seorang pasukan hendak memastikan bahwa orang di seberang adalah kawannya, maka ia akan mengeluarkan bunyi “KUK” satu kali. Jika yang disapa adalah sesama pejuang Hizbullah, maka ia akan menjawab dengan dua bunyi: “KUK KUK.” Kode ini begitu sederhana, tapi efektif. Di tengah malam, suara pendek seperti itu tidak mudah ditangkap oleh musuh, namun sangat berarti bagi para pejuang.
Strategi sunyi ini menjadi bagian penting dari perjalanan gerilya Mbah Man dan pasukannya. Dalam kegelapan, di atas derasnya Sungai Brantas, keberanian dan kecerdikan berpadu untuk menjaga keselamatan perjuangan. Mereka bukan hanya melawan tentara asing, tapi juga melawan keterbatasan, alam, dan rasa takut.
Dalam sejarah besar kemerdekaan Indonesia, peristiwa-peristiwa seperti ini sering terlupakan. Namun justru di sinilah terletak nilai sejatinya: pengorbanan dalam diam, kesetiaan dalam gelap, dan keberanian tanpa sorotan.

Comments
Post a Comment